Wednesday, March 19, 2008

Kumpulan Puisi Islami

Mufa Media - Puisi bagi saya adalah salah satu cara mengungkapkan ekspresi yang elegan. Lho kok bisa? Iya, secara orang yang menulis puisi tidak bisa asal. Karena menulis puisi agar bagus itu membutuhkan feel. Dengan adanya feel (rasa) yang cukup maka karya puisi kita akan lebih mengena ke hati pembaca. Ya, sesuatu yang asalnya dari hati, pasti ngena di hati. Iya khan?

Kali ini saya akan share kumpulan puisi islami yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu. Sederhana sich. Tapi siapa tahu ada manfaatnya :)

Kumpulan Puisi Islami

SERUAN INDAH

Dalam naungan mega merah
Setelah sore yang merekah
Sebuah pandangan wajah
Dipinggir pematang sawah
Pohon-pohon terhembus angin sedang  bersimfoni
Nampak daun padi tangannya melambai
Juga nampak bayangan insani
Kembali tuk penuhi seruan Ilahi
Seruan indah merasuk dalam kalbu
Dengan faham hati yang tahu
Akan panggilan itu
Dengan berseru begitu
Hayya ‘alassholaah ...
Hayya ‘alassholaah ...
Hayya ‘alalfalaah ...
Hayya ‘alalfalaah ...
Kubersihkan kalbu dengan mengingat-Mu
Dengan berbasah bibir ku sebut nama-Mu
Beserta embun mata kuasa-Mu
Selalu berharap akan ridlo-Mu

Baca Juga: Kumpulan Puisi Bertema Maulid Nabi

LEMBARAN AYAT CINTA SUNYI (1)

Yaa Allah, Yaa Robbii ...
Yaa Nabi, Yaa Habibii ...
Izinkan kami berbagi dengan sunyi ...
Wahai Baginda Nabi ...
Engkau mutiara satu-satunya yang tak berdua
Keemasan figurmu kilau kemilau dengan sangat indahnya
Ketegaranmu lampaui sosok karang lautan
Yang tak pernah goyang akan terjangan ombak zaman
Intelegensimu lewati batas ruang dunia maupun waktunya
Halus lembut sikapmu meresap lesap dalam pori-pori kalbu setiap alam dengan senyap
Badai Tornado pun tak sanggup samai kilat sambar angin dermawanmu
Ketokohanmu tak tertandingi bermacam penanding
Semua punggawa dunia serentak dengan detak pengakuan nan berkesan
Tak satupun sanggup bersangkal fakta dengan saksi matanya
Wahai Bagindaku ...
Segala macam bahasa kata tak mungkin terasa wakili semua
Segala macam rasa karsa makhluk fana tak sanggup menembus sekat-sekat gambar pribadimu
Segala macam pujian tak cukup ‘tuk serta merta dampingi hakikimu
Terlalu sedikit, berhimpit nan sempit deretan lukisan tentangmu
Wahai Bagindaku ...
Zaman anakkan insan tuk dambakan dirimu
Jagat raya madahkan rasa ‘tuk sambut kehadiranmu yang suci
Dengan madah, semadah-madahnya madah seolah tiada henti
Ya, Nabi ...
Padamu tersemat pangkat lebihi malaikat-malaikat
Dalam dirimu martabat derajat impian umat
Suri tauladanmu pancarkan pesan bagi hamba gunakan nurani insan
Gumpalan awan seolah lemparkan senyuman bagi pengikut teladan
Ya, Nabi ...
Allah ... Tuhan kami ...
Pencipta kami ...
Pelindung kami ...
Penyayang kami ...
Telah menghendakimu sebagai Baginda, Pemimpin, Penerang serta Panutan bagi kami
Ya, Nabi ...
Izinkan hati ini, lisan ini, seluruh jiwa raga ini ...
Berasa mengolah rasa karsa ‘tuk madahkan dirimu
‘Tuk dambakan dirimu
‘Tuk rindukan kasihmu
‘Tuk dapatkan syafa'atmu
Allohumma Sholli wa Sallim wa Baarik ala Sayyidina Muhammad

Baca Juga: Kumpulan Puisi Bertema Kritik

LEMBARAN AYAT CINTA SUNYI (2)

Ya, Allah...,Ya, Robbi...
Ya, Nabi..., Ya, Habibi...
Mohon kenankan  diri  ini  berbagi  dengan sunyi...

Sunyi senyap iringi kalbu merayap
Merayap ratap layangkan pucuk harap
Harapkan pintu nurani terkesiap
Lama sudah mata hati meratap-ratap dalam pengap
Tak sanggup alirkan sungai mata tanda insyaf
Muslimin... Muslimat...
Inilah kita...
Walau memang sekedar kata
Sekedar kita coba berkata
Sekedar kita coba berbahasa
Sekedar kita coba merasa
Katakan...
Bahasakan...
Rasakan...
Madahan  pada  Nabi,  seniman   penggubah zaman
Angkat hormat   amat   sangat   pada   figur terhormat

Muslimin... Muslimat...
Inilah kita...
Kita yang begitu merasa  sudah  mengagung-agungkan insan agung
Kita yang begitu  percaya  diri dapat  pengakuan umat Nabi sejati
Kita yang begitu yakin menatap qiyamat dengan syafaat
Kita yang begitu yakin  dengan  daftar  amal-amal yang terlekat karat
Kita yang begitu yakin dengan ridlo Sang Penguasa jagat, seolah-olah takkan terlewat
Saking yakinnya kita, sampai-sampai lupa...
Kita lupa kalau kita sebenarnya miskin
Miskin... benar-benar amat sangat miskin
Kita miskin amal
Kita miskin moral
Kita miskin sembahyang awal
Namun kita berlimpah bual
Tak terhitung berapa bebal
Kaya akan formal
Benar...
Benar-benar kita miskin akan yakin
Muslimin... Muslimat...
Inilah kita...
Kita memang pandai mengaku-aku seraya berseru...
“Aku tahu, sangat-sangat tahu siapa Nabiku !” kata kita...
Inilah kita...
Kita pandai berkata-kata
Kita pandai putar balik fakta
Kita pandai layangkan angan ke angkasa
Namun kita jauh lebih tidak pandai adanya...
Dalam rangkaikan rasa dalam jiwa raga
‘Tuk lahirkan fakta
‘Tuk tuangkan syukur dalam bujur nikmat-nikmat-Nya
‘Tuk akurkan kalbu guna cintai kekasih-Nya
‘Tuk biasakan tafakkur dalam ayat cinta-Nya

Baca Juga: Kumpulan Puisi Bertema Kepahlawanan