Belajar dari Para Tokoh Islam Abad Ketujuh (Bag. 1)


Belajar dari Sosok Muhammad bin Abdullah

Mufa Media - Dalam kehidupan ini kita tidak bisa lepas dari berbagai hal yang terkait dengannya. Terutama yang berkaitan dengan apa yang kita butuhkan. Baik itu yang bersifat materi ataupun immateri (yang bukan materi).

Salah satu kebutuhan yang bersifat bukan materi adalah tuntunan dalam kehidupan. Bagi ummat Islam, tuntunan sangatlah memegang peran penting dalam mencapai kehidupan yang baik dan sejahtera. 

Dalam kesempatan ini, marilah kita belajar melalui biografi salah satu tokoh Islam yang hidup pada abad ketujuh. Simak ulasannya berikut ini:

Belajar dari Sosok Muhammad bin Abdullah (570-632 M.)

Muhammad bin Abdullah adalah pembawa risalah, pembangun umat, dan pendiri sebuah kedaulatan negara. Beliau menyampaikan risalahnya di kota Mekah pada tahun 610 Masehi.

Hingga hari ini, risalahnya telah diikuti oleh sepertujuh penduduk dunia, terdiri atas pelbagai ras. Bahkan suatu pemerintahan kecil yang beliau dirikan di kota Madinah-yang pengaruhnya kemudian menyebar kesluruh pelosok Jazirah Arabia sebelum beliau meninggal dunia hingga satu abad setelah itu-menjadi sebuah imperium besar pada abad pertengahan.

Muhammad tumbuh ditengah lingkungan yang bobrok dan rusak. Diantara tanda kerusakan itu ialah fanatisme kesukuan, pemisahan antara kelompok kaya dan miskin, kerusakan agama karena menitikberatkan pada penyembahan berhala, mudahnya seseorang menghilangkan nyawa dan merampas harta orang lain, serta hilangnya konsep umat dan negara atau kehidupan politik.

Selama dua puluh tahun beliau mampu menyingkirkan semua bentuk kerusakan itu, menyatukan suku-suku yang terpecah-belah menjadi bangsa Arab yang bersatu, dan meletakkan keimanan sebagai pengikat tali persaudaraan antara seorang Muslim dengan saudaranya.

"Sesungguhnya orang Mu'min itu bersaudara.", demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Menurut ajaran agama yang dibawanya, manusia bertindak sebagai wakil kekayaan dan harta bendanya. Bahkan, orang fakir juga memiliki hak dalam harta kekayaan tersebut.

"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang orang miskin yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian." (Q.S. 51:19)

Muhammad meletakkan kembali berhala-berhala ke tempat asalnya,-kedalam tanah-dan mengajak kembali kaumnya untuk menyembah Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya, diatas bumi, langit dan semua materi yang ada.

Beliau mengembalikan hak-hak kaum wanita yang terampas pada zaman Jahiliyah. Menurutnya, wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam menjalankan ibadah, melakukan kegiatan sosial, dan dalam hal-hal lainnya.

Semua nabi sebelum Muhammad hanya menjadi pelita bagi kaumnya, tetapi Muhammad menjadi pelita bagi alam semesta. Beliau memperlakukan manusia sebagai sosok manusia dalam arti sebenarnya.

Beliau percaya kepada semua nabi sebelumnya berikut risalah yang dibawa oleh mereka, dan perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh mereka. Muhammad mengajak orang yang mempercayainya untuk percaya kepada mereka.

Beliau mengajarkan bahwa kebenaran hanya ada satu pada setiap zaman, seperti yang telah diserukan oleh para nabi sebelum dirinya. Beliau mengajak kepada ajaran yang disampaikan oleh mereka.

Beliau diutus untuk menyampaikan risalah mereka, meneruskan ajaran mereka, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan mereka.

Beliau diutus menyampaikan risalah sesuai dengan kemajuan zaman.  Risalahnya berlaku untuk semua golongan, untuk seluruh alam semesta.

Muhammad tidak pernah membedakan antara bangsa Arab dan bukan Arab, antara yang kaya dan yang miskin, antara yang putih dan yang hitam, antara satu golongan dengan golongan yang lainnya, ataupun antara Timur dan Barat.

Muhammad tidak pernah terpengaruh dengan rasa dan kebangsaan ketika menyampaikan ajarannya, dan juga tidak dipengaruhi oleh aristokratisme.

Ajarannya mengajarkan bahwa manusia adalah bersaudara: orang putih adalah saudara orang hitam, laki-laki adalah saudara perempuan, orang kaya adalah saudara orang miskin, dan raja adalah saudara rakyat jelata.

Muhammad tidak pernah mengajarkan kepada pengikutnya yang beriman dan bertakwa untuk menjauhi dunia. 

Muhammad menginginkan agar pengikutnya menjadi suatu kekuatan untuk memberantas kejahatan serta menjadi jalan bagi kebaikan.

Beliau mengajari pengikutnya agar hidup harmonis dengan orang yang ada disekitar mereka.

Kemauan keras untuk menjalankan ajaran agama tidak harus menjadikan dirinya sebagai paderi yang hidup di biara-biara yang meninggalkan dunia karena mementingkan urusan agama.

Muhammad menginginkan agar umatnya bertakwa kepada Allah, tetapi tidak melupakan urusan dunia mereka. 

Mereka boleh berdagang, tetapi tidak melupakan shalat. Mereka boleh memiliki harta kekayaan yang melimpah, tetapi mau mengeluarkan zakat. 

Mereka dianjurkan menikah dan bersikap lemah lembut terhadap istri mereka. Mereka hendaknya bekerja mengejar dunia seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya, dan mengerjakan urusan akhirat seolah mereka akan mati esok hari.

Muhammad sendiri adalah sosok teladan yang paling baik dalam mitos dan realitas.

Beliau berangan-angan mewujudkan suatu masyarakat yang lebih baik daripada masyarakat Jahiliyah yang Beliau sendiri hidup didalamnya.

Dalam pada itu, ketika Beliau mulai melangkah dan melaksanakan angan-angannya, Beliau sangat hati-hati menerapkan ajarannya dengan kenyataan yang ada di lapangan dan tingkat budaya yang telah dicapai oleh kaumnya.

Beliau melihat kedepan dengan pelajaran yang telah dialami pada masa lampau. Beliau sangat yakin bahwa perkembangan bertahap, perlahan, dan penuh kebijakan adalah sangat penting.

Muhammad sangat berani menghadapi semua tuntutan yang diperlukan dalam dakwahnya. Bahkan, Beliau pernah mengalami siksaan yang harus dihadapinya.

Jika beliau gagal dalam satu langkah, beliau mengambil langkah yang lain. Jika ada keluarga yang memisahkan diri darinya, belaiau tidak merasa gentar.

Jika tentaranya kalah dalam peperangan, beliau tetap tabah dan berani. Tatkala beliau memperoleh kemenangan dalam suatu peperangan atas musuhnya, beliau mampu mengendalikan nafsu dan kekerasannya sesuai dengan kedudukannya sebagai pemimpin negara. Padahal, sejarah belum pernah menyebutkan adanya seorang pemimpin yang berhasil menaklukan sebuah kota, tetapi tidak memorak-porandakan seisi kota itu dan-karena rasa dendamnya-membunuhi penduduknya. Muhammad tidaklah demikian.

Beliau mengingatkan orang kepada ajarannya. Beliau memberi petunjuk kepada jalan terbaik yang mesti dilalui untuk mencapainya. Beliau sangat senang  jika orang bisa melakukannya..

Jika beliau pernah menyuruh menghancurkan berhala di kota Mekkah, hal itu bukan berarti bahwa orang Quraisy itu sebagai penyebab kesengsaraannya.

"Pergilah, karena sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang terbebaskan."

Muhammad senantiasa membuka pintu maaf untuk mereka, sekaligus menjadikan mereka sebagai kekuatan handal yang berkhidmat kepada agama dan umat yang baru.

Muhammad telah membuat contoh dan teladan yang sangat anggun. Beliau menggabungkan antara kekuatan dan kasih sayang, antara kekerasan dan ampunan. Beliau senantiasa menganjurkan keharmonisan.

Dapat diyakinkan bahwa Muhammad adalah pribadi yang paling cemerlang dalam sejarah bangsa Arab, bahkan sejarah manusia pada umumnya.

Dalam dirinya terhimpun berbagai sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun, baik pribadi sebagai seorang nabi, pemimpin, panglima perang, pemimpin negara, serdadu perang, orator, guru, maupun administrator.

Kemampuannya berhasil mengendalikan urusan ummatnya, seakligus mengarahkan mereka semua kearah kehidupan dunia dan suasana keruhanian umatnya yang belum pernah dicapai oleh para nabi sebelumnya. 

Wallahu a'lam bisshowab.


Sumber: 
Buku "Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam"

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar dari Para Tokoh Islam Abad Ketujuh (Bag. 1)"