Mufa Media -- Malam itu, di pojok kamar kobong yang remang, seorang santri duduk bersila. Kitab Ta’lim Muta’allim terbuka di pangkuannya, tapi perhatiannya terbelah. Layar HP di samping kitab itu terus menyala, menampilkan lalu lintas dunia luar yang riuh: potongan video bertengkar di kolom komentar, orang-orang yang bangga memamerkan aib demi tawa singkat, hingga caci maki yang dikemas atas nama kejujuran.
Ada desakan halus di dadanya—rasa ingin ikut nimbrung, jempol yang gatal ingin mengetik komentar pedas, atau sekadar rasa takut tertinggal tren. Tanpa sadar, batas antara apa yang pantas dan yang tidak mulai samar hanya dalam satu usapan jempol.
Di titik itulah tantangan santri hari ini benar-benar diuji. Jika puluhan tahun lalu para pendahulu kita bertaruh nyawa menahan gempuran peluru penjajah, musuh santri hari ini jauh lebih senyap. Musuh itu tidak membawa senjata, melainkan merayap masuk lewat layar lima inci, mengikis rasa malu, dan pelan-pelan merobohkan benteng moral yang dibangun bertahun-tahun di atas sajadah.
Dunia digital hari ini pintar membuat ilmu terasa begitu murah. Apa saja bisa ditanyakan ke mesin pencari atau AI, dan jawabannya keluar dalam hitungan detik. Tapi di sanalah letak jebakannya. Mesin bisa memberi tahu kita hukum sebuah perkara, tapi ia tidak bisa mengajarkan bagaimana cara menyampaikan kebenaran tanpa menyakiti. Algoritma bisa menyajikan ribuan fakta, tapi ia tidak punya adab dan tidak pernah kenal rasa tawadhu.
Maka, ketika media sosial makin bising oleh orang-orang yang merasa paling benar, santri tidak boleh ikut-ikutan kehilangan arah.
Menjadi santri di era disrupsi berarti belajar menjadikan adab sebagai "rem" utama. Saat orang lain sibuk menghujat, santri menahan jempolnya karena ingat dawuh kiai bahwa lisan dan ketikan adalah cerminan isi hati. Saat berita simpang siur dan fitnah menyebar di grup-grup percakapan, santri memilih diam sejenak untuk tabayyun—memeriksa kebenaran sebelum ikut menyebarkan angin fitnah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Lebih dari itu, santri tidak boleh hanya menjadi penonton yang mengeluh di pinggiran. Jika ruang digital dipenuhi oleh konten-konten yang merusak, itu terjadi bukan karena orang jahat terlalu dominan, melainkan karena orang-orang baik memilih untuk diam. Saatnya santri berani tampil. Bukan untuk pamer, melainkan untuk merebut kembali ruang publik lewat narasi yang menyejukkan—membawa pesan damai dari balik dinding pesantren ke seluruh penjuru dunia maya.
Jihad santri hari ini adalah menjaga martabat. Biarlah teknologi melaju secepat apa pun, tapi peci dan sarung kita harus tetap menjadi simbol keberkahan, kejujuran, dan kehangatan akhlak yang tak tergoyahkan oleh arus zaman.
Selamat Hari Santri! Teruslah menjadi pelita di tengah kegelapan, penyejuk di tengah kebisingan, dan benteng moral yang tak pernah runtuh oleh terjang zaman!
Padangan, 21 Oktober 2026
Padangan, 21 Oktober 2026


0 Comments