Foto

MM

Menyemai Jiwa Pemberi


Mufa Media -- Ada sebuah keheningan yang selalu hadir di ruang kelas, beberapa menit sebelum bel pertama berbunyi. Di antara deretan kursi yang masih kosong dan garis sinar matahari yang menerobos jendela, kerap terlintas sebuah pertanyaan yang mengusik batin tentang di mana sebetulnya akar dari segala kerusakan di dunia ini bermula. Kita sering menyaksikan berita tentang lorong-lorong birokrasi yang keropos, relasi antarmanusia yang kian dingin dan transaksional, hingga jeritan bumi yang terluka oleh bencana. Namun, jika kita mau duduk sejenak dan menatap jauh ke dalam diri, kita akan menyadari satu hal bahwa segala bentuk kerusakan di luar sana hampir selalu berawal dari satu titik sunyi di dalam batin manusia, yaitu sebuah jiwa yang terperangkap dalam mentalitas mengambil.

Ketika seseorang melangkah di dunia dengan keyakinan bahwa ia harus selalu menerima, di dalam dadanya tumbuh sebuah lubang hitam batin—sebuah ruang hampa yang tak pernah kenyang. Apa pun yang mampir ke dalam hidupnya, mulai dari perhatian, penghargaan, fasilitas, hingga kasih sayang, selalu disedot habis tanpa pernah mengalir kembali. Manusia yang terjangkit mentalitas ini memandang dunia dari sudut pandang kelangkaan, selalu cemas akan kekurangan, lalu melihat sesamanya sebagai saingan dan memandang alam sekelilingnya sebagai komoditas yang harus diperah.

Dari lubang hitam batin inilah, luka-luka di tubuh bumi bermula. Padahal, jika kita mau berguru pada alam, bumi sejatinya adalah rahim kehidupan yang tak pernah menagih balas. Ia menumpahkan udara bersih untuk dihirup, mengalirkan air jernih untuk meneguk kehidupan, dan membentang keteduhan tanpa pernah mengirimkan tagihan. Namun, ketika jiwa-jiwa pengambil memegang kendali, hutan tak lagi dihayati sebagai paru-paru dunia, melainkan sekadar deretan kubik kayu yang siap diuangkan, dan sungai tak lagi dipandang sebagai nadi kehidupan, melainkan tempat pembuangan. Mereka mengambil sebanyak-banyaknya hari ini, tanpa peduli apakah esok hari anak cucu mereka masih menyisakan sepetak tanah yang aman untuk dipijak. Krisis ekologi dan krisis moral sesungguhnya bermula dari dahaga yang sama, yakni jiwa yang bernafsu menguras tetapi enggan menanam.

Di balik riuhnya mentalitas mengambil, tradisi luhur kita telah lama menitipkan sebuah kompas yang amat teduh bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Kalimat ini bukan sekadar imbauan moral tentang bersedekah materi, melainkan sebuah maklumat tentang martabat kemanusiaan. Menjadi tangan di atas adalah sebuah pilihan kesadaran untuk memposisikan diri sebagai sumber kebaikan, pihak yang berdaya, mengalirkan manfaat, dan memberi warna pada ruangan yang dimasukinya. Sebaliknya, membiasakan diri menjadi tangan di bawah dengan selalu menengadah, menuntut hak, dan menunggu disuapi, lambat laun akan mengikis harga diri dan membiarkan jiwa kerdil dalam ketergantungan. Jika manusia bermental pengambil ibarat bendungan yang menyumbat aliran sungai demi menampung air untuk dirinya sendiri hingga mematikan ekosistem di hilir, maka orang yang bermental memberi ibarat mata air di lereng bukit yang tidak pernah menunggu disuruh untuk meluap. Ia memancarkan kesegaran, menghidupkan akar-akar pohon di sekitarnya, memberi minum musafir yang dahaga, dan terus mengalir tanpa pernah cemas bahwa dirinya akan habis.

Di sinilah letak keindahan sekaligus tanggung jawab terbesar dari profesi pendidik. Ruang kelas bukan sekadar tempat mentransfer materi ujian atau mengejar target kurikulum, melainkan laboratorium spiritual tempat anak-anak belajar membaca kehidupan. Anak-anak didik kita adalah pengamat yang sangat jernih. Mereka mungkin lupa pada detail rumus yang kita tulis di papan tulis, tetapi mereka tidak akan pernah lupa pada aroma batin yang kita bawa ke dalam kelas. Mereka memperhatikan apakah kita hadir di depan mereka dengan mata yang bersinar dan ketulusan untuk berbagi, atau sekadar hadir untuk menggugurkan kewajiban harian. Mereka melihat apakah kita mendengarkan pertanyaan mereka yang polos dengan kesabaran, atau menepisnya karena tergesa-gesa, serta apakah kita merawat kebersihan kelas dan lingkungan dengan rasa tanggung jawab atau membiarkannya terlantar begitu saja.

Ketika seorang guru hadir dengan mentalitas tangan di atas—ikhlas menyisihkan waktu untuk merangkul murid yang tertinggal, memberi ruang dengar bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka, dan merawat lingkungan sekolah dengan penuh kasih—pada saat itulah karakter anak-anak sedang dilukis melampaui batasan buku teks. Mereka belajar sebuah kebenaran mendasar bahwa kemuliaan hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita genggam, melainkan dari seberapa banyak ketulusan yang berhasil kita bagikan.

Dunia hari ini tidak pernah kekurangan orang-orang pintar yang mahir menuntut haknya, namun dunia sedang sangat merindukan kehadiran jiwa-jiwa yang sudi membuka tangan tanpa niat menuntut kembali. Kerusakan di sekolah, di masyarakat, hingga di paras bumi yang kian tua ini tidak akan pernah pulih hanya dengan tumpukan regulasi baru atau pergantian kurikulum. Ia baru akan sembuh ketika kita, satu per satu, berani menggeser pusat gravitasi batin kita dari tangan yang menggenggam menjadi tangan yang terbuka. Mari kita jaga terus nyala api keteladanan ini, mulai dari senyuman hangat yang kita layangkan di pintu kelas, kesabaran mendidik anak-anak, hingga kepedulian kecil untuk menyiram tanaman di pekarangan, sebab dari tangan-tangan para pemberi-lah, sebuah peradaban yang asri, damai, dan penuh keberkahan akan terus mengalir tanpa akhir.

Sebab pada akhirnya, ketika langkah kaki kita kelak terhenti dan ruang kelas ini berganti penghuni, benih apakah yang sebenarnya telah kita semaikan di dalam batin murid-murid kita: sebuah jiwa lapang yang hadir untuk merawat dunia, ataukah genggaman serakah yang akan terus menagih sampai tak ada lagi yang tersisa?

Padangan, 26 Oktober 2026

Post a Comment

0 Comments